30/12/2014

The True Story Tiwong (Tiger Wong) Diterbitkan pada Selasa, 14 Oktober 2014 12:25|Ditulis oleh Super User

Siapa yang tidak mengenal kuliner "Nasi Jamblang dan Empal Gentong???". Makanan yang sudah melegenda itu, ternyata sudah ada di zaman dahulu semasa Sunan Gunug Jati menyebarkan syiar Islam di tanah Jawa. Ya.. Cirebon begitulah sebutan kota yang berada di provinsi Jawa Barat ini. Dari kota inilah lahir sosok pria yang selalu berpenampilan modis dan cenderung bergaya funky dan enerjik "TIWONG" begitulah namanya. Bapak 2 orang putri ini mendedikasikan hidupnya untuk seni batu semenjak duduk dibangku sekolah Dasar hingga sekarang. Sungguh waktu yang sangat panjang. Bahkan untuk membeli batu-batu kesukaan pada masa itu, beliau rela uang buat jajan sekolah dikumpulkan untuk membeli batu. Menginjak belajar di bangku SMA hobinya semakin menjadi, ribuan batu sudah dimiliki. Hal ini bisa jadi karena ada bakat dari Sang Papa Santoso Slamet yang sudah dari muda menjadi pecinta batu "Pirus".
Berawal dari batu Pirus itulah Bang Tiwong mempelajari dan menekuni seni batu. Totalitas untuk seni batu benar-benar dipertaruhkan, ini terbukti sampai studinya di sebuah perguruan tinggi di Jakarta beliau tinggalkan pada semester ke-4. Sungguh pertaruhan yang tidak main-main demi sebuah hobi. Tahun 1990 Bang Tiwong melangsungkan pernikahan dengan teman semasa kuliah, hingga akhirnya dikaruniai 2 orang putri.
Penjelajahan dari daerah ke daerah di Indonesia bahkan sampai ke luar negeri beliau lakukan untuk lebih mendalami pengetahuan tentang geologi dan pemetaan asal muasal batu di dunia. Ini tak lepas dari dukungan sang istri tercinta yang selalu mensupport apapun yang Bang Tiwong jalani.
Lebih dari 30 tahun Bang Tiwong banyak menghabiskan waktu untuk menekuni hobinya, bahkan kediaman beliau ada ruangan kerja khusus untuk menaruh koleksi bahan-bahan batu dari berbagai daerah seperti dari Garut, Ponorogo, Sukabumi, juga Ternate. Ada 7 mesin potong yang beliau punya dan beliau sendiri yang merancang mesin tersebut. Ternyata Bang Tiwong sangat mahir dalam membaca serat dan urat batu hingga hasil potongan batu yang beliau kerjakan sangat terukur hasilnya. Kegiatan tersebut dilakukan disela-sela kesibukannya sebagai seorang pengusaha dibidang transportasi darat khususnya angkut barang. Banyak armada truk besar dan truk gandeng yang beliau miliki. Jasa angkutan darat ini melayani jasa angkut barang dari pelabuhan, pabrik, perkebunan, dan perorangan.
Di bidang hobi seni batu akik lokal Indonesia menjadi pilihan Bang Tiwong untuk serius menekuni dunia seni batu dan pilihan yang paling utama pada Akik Gambar. Di kediaman beliau terdapat lebih dari 5.000 batu Akik Gambar yang beliau koleksi, belum lagi yang semi proses potong serta bahan-bahan bongkahan yang belum dipotong, diperkirakan ada 20 ton. Batu-batu asal Kabupaten Garut menjadi salah satu pilihan Bang Tiwong. Menurut beliau, ketajaman warna batu Panca Warna asal Garut ini sangat bervariasi dan mempunyai karakter yang kuat seperti merah cabe, warna hijau, urat tembaga, dll.
Bicara akan batu Garut memang sangat menarik, karena batu yang satu ini sudah sangat terkenal hingga ke mancanegara, bahkan boleh dibilang populernya seni batu di Nusantara ini diawali dari batu-batu dari tanah GArut, selain jenis warna hijau, batu GArut juga ada banyak variasi warna seperti warna kuning, merah, biru, ungu, apalagi jenis Panca Warna. Keindahan batu jenis ini sangat luar biasa, untuk mendapatkannya pun tidak mudah, apalagi yang mempunyai kualitas super. Karena siapapun tidak bisa memastikan akan seperti apa warna batu Garut yang masih bahan dan terbungkus kulit batu, ada kalanya dari luar tidak menarik, namun setelah dibelah hasilnya sangat indah. Disitulah seni batu yang punya keunikan, penuh misteri dan tanda tanya. Dari sekian banyak variasi warna yang ada, Panca Warna menjadi pilihan Bang Tiwong. Selain bisa diambil keindahan gambarnya, batu Panca Warna Garut juga masih bisa diambil keanekaragaman warnanya.
Begitulah sosok Bang Tiwong yang selalu berpenampilan menarik ini memberikan cerita tentang batu-batu Garut yang banyak di koleksinya. Bagi beliau sampai sekarang pun selalu memcari batu-batu bahan dari Garut mesti sudah langka didapatkan lagi.l Melalui komunikasi dan penjelajahan kemungkinan akan selalu berkesempatan untuk memperolehnya.

No comments:

Post a Comment