02/12/2014

Love In Boston 2

“hei you…” pekikku membalikan tubuh secara tiba-tiba. Seorang gadis di belakangku belum sempat menyembunyikan wajahnya ketika aku terlanjur famiiliar dengan wajah yang tak asing itu.
“heehe, gue kangen,” katanya dengan wajah memerah.
“sama gue?” celetukku spontan
“not you, but indonesia… sayang gue nggak punya wajah indonesia”
“nasionalisme itu bukan tentang wajah, tapi tentang darah” ujarku tanpa ekspresi.
“hei kay, mil…” sapa seseorang dengan rambut pirang dan tubuh jangkung.
“jake..?, kalian saling kenal”
“sorry gue buru-buru jake, bye” pamitku pada orang Boston itu sambil berjalan menjauhinya.
“Jake..?” ulang miley masih penasaran.
“okay.. we are best friend” ujar jake langsung mengerti isyarat yang diberikan miley.
“selalu ada jalan menuju Roma” kata miley dengan ide-ide ajaib di kepalanya.
Boston, minggu 1 september 2013
Kinaya ke mana aku harus pergi ketika aku mulai merindukanmu dan kepada siapa aku harus tersenyum ketika aku bahagia nanti. Like today, aku benar-benar terbebas dari jeratan mata kuliah yang menjenuhkan. Dari lantai empat lima apartemen aku siap menembus keterbatasan yang menghambat langkahku. Di area copley square aku menggunakan waktu senggangku untuk tidur siang sebelum suara bising sekelompok anak mengganggu tidurku.
“Wee…move..!!, dont disturb my freeday, just leave from here” kataku mengusir sekerumunan anak boston itu.
“whats wrong…?” tanyaku pada seorang anak yang masih tak bergeming.
“hem, nothing”
“Anak aneh…” celetukku berbahasa.
“makasih kak” timpalnya membuatku tertegun dengan kalimat bahasa indonesianya.
“Heii… mau jadi tour guide gue?,” pintaku padanya. Raut wajah anak itu tampak hambar tak berselera. Namun dugaanku meleset, dia ahlinya tersenyum,
“sepakat” ujarnya mengejutkanku.
Siang ini dimulai dari beberapa tempat bersejarah di Boston. Anak itu tampak fasih menjelaskan seluk beluk boston. Ia tak kelihatan seperti orang indonesia, wajahnya pun melebur seperti penduduk asli boston, hanya warna bola matanya saja yang menunjukan kebanyakan orang timur. Sambil menikmati hot dog aku masih penasaran apa yang membuat anak itu harus berjalan dengan kaki kayu hingga tanpa sadar aku terus mengusiknya.
“hemm… mereka ngejek aku karena kaki kayu ini, kak” tuturnya tiba-tiba membuatku tak enak hati.” bom boston lima bulan yang lalu, maybe God loves me, makanya aku berbeda” kali ini giliran aku yang tertegun, sekejab wajah kinaya kembali memenuhi pikiranku.
“mimpi kamu..?”
“aku dikeluarkan dari sekolah atletikku, kak. Mereka bilang, mana ada atlet lari dengan kaki kayu”
“Kamu mau lari lagi..?”
“satu kaki pun aku masih bisa berlari, karena berhenti bermimpi itu bukan pilihan, iya kan kak..?”
kalimat terakhirnya hampir membuatku tersedak. Aku tak mengerti anak usia lima belas dapat memandang sisi hidupnya dari arah yang baik. Tuhan mengirimkan anak itu tepat waktu. Aku mulai menyukainya, dan dimulai dari sore itu kami sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar makan hot dog pinggir jalan atau berbagi cerita bersama, termasuk tentang kinaya dan mimpiku yang tertunda.
“will… aku janji, walaupun bukan hari ini, aku pasti akan lari”
“harus, aku mau lihat kakak di arena yang sesungguhnya, promise..?”
“I promise, will..” janjiku tak berniat mengecewakannya.
Boston, selasa 1 oktober 2013
Hari ini tanpa will, aku sedang menghitung langkahku di trotoar sekaligus menghitung hari-hari yang kulewati tanpa kinaya. Lama-lama bayangnya mulai kabur, aku pun tak sering lagi menjumpainya di alam mimpiku. Mungkin lukaku mulai mengering, meski tak kan bisa hilang bekasnya. Sampai pada langkah ke sembilan puluh sembilan sebuah bayangan meneduhkan langkah ke seratusku. Sudah beberapa bulan aku mulai terbiasa dengan sikap kekanak-kanakannya. Tetapi kali ini wajah pengganggunya seperti ia sembunyikan sementara mata coklatnya semakin dalam menatapku.
“kay, ayo kita lari berdua..!!”
“seharusnya kamu meminta yang lain, mil. karena aku nggak akan bisa mengabulkan permintaan yang satu itu”
“nggak adil..!!, kenapa seseorang yang sangat ingin berlari dia ngga memiliki kesempatan, sedangkan seseorang yang memiliki kesempatan dia malah berhenti berlari”
“loe lagi marahin gue..?” tanyaku tak mengerti.
“hemm, ini salah gue..” ujarnya pergi dengan mata lembab. Kali ini bukan dia yang mengejarku, tapi aku yang tak mengijinkannya pergi.
“hei.. mau cerita..?” kataku menarik lengannya untuk duduk di sampingku. Suasana canggung sejenak, belum ada yang mulai bicara hanya ada suara beberapa burung di atas pohon yang kami jadikan tempat berteduh.

No comments:

Post a Comment