02/12/2014

Love In Boston 3 cerpen bahasa inggris

“ada berjuta juta orang yang menginginkan kaki sepertimu, kay. Tapi, kenapa loe malah berhenti bermimpi?”
“nggak semua pertanyaan harus ada jawabannya, mil..” ujarku padanya. Miley tak bereaksi. Hanya ada derungan kendaraan yang melalu lalang di jalanan. Miley menghapus airmatanya, lalu berlari meninggalkanku. Lampu penyeberangan belum menunjukan jalan, tetapi miley melenggang saja memotong jalan yang siang itu tampak padat. Suara decitan rem dan klakson mulai saling menyaut, situasinya semrawut dan untuk pertama kalinya ada orang yang membuatku harus berlari mengejarnya setelah kinaya.
“kamu lari kay…”
“bodoh… kenapa lo selalu bikin gue marah?” kataku setelah berlarian menggandengnya ke tepian jalan.
“kay, bisakah aku menjadi alasanmu”
“maaf mil, sesuatu yang aku kejar udah sampai finishnya”
“apa cinta juga nggak bisa jadi alasan..?”
“gue takut memiliki karena gue nggak mau kehilangan lagi mil”
“aku berharap bertemu kamu sebelum kinaya” katanya membuatku hampir tersentuh. Tatapan itu membuatku seolah menjadi orang yang paling kejam. Membuat seorang wanita menangis sama saja aku ini pengecut.
“kalau memang nggak bisa, aku akan berhenti kay sebelum aku terlalu jauh” katanya seperti orang yang putus asa. Kepergiannya malam itu seperti tak akan kembali lagi.. tapi bukankah itu yang aku inginkan…?, kenapa aku jadi tak konsisten semenjak pertemuanku dengannya.
Waktu semakin bergulir, hanya sesekali aku melihat miley lewat di depanku. Tatapannya asing. Ia benar-benar menepati ucapannya. Tapi kenapa di saat ia memutuskan untuk berhenti aku malah baru memulai gejolak di hatiku. Aku takut ketika harus memulai kembali, takut bertemu dengan rasa yang sama seperti rasa yang telah kau tinggalkan, kinaya.
“whats u up, man” tegur jake mengagetkanku.
“dari mana loe, jake?”
“Airport… miley kan hari ini terbang ke timur tengah”
“apa..?” ungkapku terkejut “dia benar-benar berhenti” desahku sembari mengambil langkah yang seharusnya sudah aku lakukan jauh hari.
Waktuku tinggal sepuluh menit lagi sebelum udara membawanya pergi dan mungkin tak kan kembali. Aku berlari… ya mungkin itu yang sedang aku lakukan karena aku bahkan lupa bagaimana rasanya berlari.
Bola mataku mengitari setiap sudut bandara, hingga suara langkah kaki yang sangat khas di telingaku semakin terdengar menonjol.
“will..?” kataku sambil mengatur nafas yang terengah engah sementara mulutku ternganga melihat tour guide kecil itu berdiri di hadapanku, di samping bocah itu seorang wanita mendongak tak kalah terkejutnya denganku,
“kay…” desahnya sambil mendikte kaki hingga ujung kepalaku. Kini aku mulai mengerti mengapa miley ingin melihatku menjadi kijang di tengah arena.
“berhenti berlari itu bukan pilihan, iya kan will?” kataku mengulangi ucapan wiley tempo hari.
“Iya, kak. Secepat kijang yang tak terkalahkan”
Boston, 15 april 2014
Aku menggenggam erat telapak tangannya yang lembut. Hari itu wiley berperan sebagai pemandu sorak kami, aku dan miley dalam perayaan Boston Marathon. Miley membuatku memiliki alasan untuk berlari. Dan aku tak harus takut kehilangannya, karena aku tak kan membiarkan cinta pergi untuk kedua kalinya, kalaupun pergi ia harus kembali. Cinta dan impian membuatku hidup, benar-benar hidup. Aku tak kan berhenti berlari sebelum aku benar-benar tak sanggup lagi berdiri. Berlari mengejar asa, tanpa takut akan terjatuh lagi, karena ada cinta yang akan membantuku bangkit ketika aku terjatuh nanti.
Kinaya maafkan aku telah memilih cinta yang lain. Percayalah ketika aku bahagia nanti aku akan tersenyum padamu karena kau pernah menjadi bagian dari kebahagiaan itu.
“miley, will you marry me?” ungkapku tanpa ragu ketika kaki kami berdiri di atas garis finish, garis yang pernah melenyapkan selera hidupku. Kini di atas garis itu pula Tuhan kirimkan cinta untuk mengganti miliaran airmata yang telah terjatuh dari kelopak mataku. Karena setiap satu butir airmata yang kita jatuhkan ada rahasia Tuhan yang tak satupun malaikat tahu.
Cerpen Karangan: Dian Setianingsih
Blog: diansetyya.blogspot.com
Nama: Dian setianingsih
TTL: Banyumas, 12 Maret 1995
Alamat: Tunjung Kulon Rt 03/01, Banyumas, Jateng
Ini merupakan cerita pendek karangan Dian Setianingsih, kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: Dian Setianingsihuntuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis yang telah di terbitkan di cerpenmu, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini lolos moderasi pada:4 November, 2013Masuk ke dalam kategori Cerpen Bahasa Inggris, Cerpen Cinta, Cerpen Motivasi

No comments:

Post a Comment